PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 53 TAHUN 2010


TENTANG


DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL

I.

UMUM

 

Dalam rangka mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral sebagai penyelenggara pemerintahan yang menerapkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance), maka PNS sebagai unsur aparatur negara dituntut untuk setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah, bersikap disiplin, jujur, adil, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas.

 

Untuk menumbuhkan sikap disiplin PNS, pasal 30 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian mengamanatkan ditetapkannya peraturan pemerintah mengenai disiplin PNS. Selama ini ketentuan mengenai disiplin PNS telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Namun demikian peraturan pemerintah tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan, karena tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi saat ini.

 

Untuk mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral tersebut, mutlak diperlukan peraturan disiplin PNS yang dapat dijadikan pedoman dalam menegakkan disiplin, sehingga dapat menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas serta dapat mendorong PNS untuk lebih produktif berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja.

 

Peraturan Pemerintah tentang disiplin PNS ini antara lain memuat kewajiban, larangan, dan hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan kepada PNS yang telah terbukti melakukan pelanggaran. Penjatuhan hukuman disiplin dimaksudkan untuk membina PNS yang telah melakukan pelanggaran, agar yang bersangkutan mempunyai sikap menyesal dan berusaha tidak mengulangi dan memperbaiki diri pada masa yang akan datang.

 

Dalam Peraturan Pemerintah ini secara tegas disebutkan jenis hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan terhadap suatu pelanggaran disiplin. Hal ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi pejabat yang berwenang menghukum serta memberikan kepastian dalam menjatuhkan hukuman disiplin. Demikian juga dengan batasan kewenangan bagi pejabat yang berwenang menghukum telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah ini.

 

Penjatuhan hukuman berupa jenis hukuman disiplin ringan, sedang, atau berat sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan oleh PNS yang bersangkutan, dengan mempertimbangkan latar belakang dan dampak dari pelanggaran yang dilakukan.

 

Kewenangan untuk menetapkan keputusan pemberhentian bagi PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

 

Selain hal tersebut di atas, bagi PNS yang dijatuhi hukuman disiplin diberikan hak untuk membela diri melalui upaya administratif, sehingga dapat dihindari terjadinya kesewenang-wenangan dalam penjatuhan hukuman disiplin.

II.

PASAL DEMI PASAL

 

Pasal 1

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 2

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 3

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Yang dimaksud dengan "setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah" adalah setiap PNS di samping taat juga berkewajiban melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kebijakan negara dan Pemerintah serta tidak mempermasalahkan dan/atau menentang Pancasila, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

 

 

Angka 4

 

 

 

Yang dimaksud dengan "peraturan perundang-undangan" adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan.

 

 

Angka 5

 

 

 

Yang dimaksud dengan "tugas kedinasan" adalah tugas yang diberikan oleh atasan yang berwenang dan berhubungan dengan:

 

 

 

a.

perintah kedinasan;

 

 

 

b.

peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian atau peraturan yang berkaitan dengan kepegawaian;

 

 

 

c.

peraturan kedinasan;

 

 

 

d.

tata tertib di lingkungan kantor; atau

 

 

 

e.

standar prosedur kerja (Standar Operating Procedure atau SOP).

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 8

 

 

 

Yang dimaksud dengan "menurut sifatnya" dan "menurut perintah" adalah didasarkan pada peraturan perundang-undangan, perintah kedinasan, dan/atau kepatutan.

 

 

Angka 9

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 10

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 11

 

 

 

Yang dimaksud dengan kewajiban untuk "masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja" adalah setiap PNS wajib datang, melaksanakan tugas, dan pulang sesuai ketentuan jam kerja serta tidak berada di tempat umum bukan karena dinas. Apabila berhalangan hadir wajib memberitahukan kepada pejabat yang berwenang.

 

 

 

Keterlambatan masuk kerja dan/atau pulang cepat dihitung secara kumulatif dan dikonversi 7 (tujuh setengah) jam sama dengan 1 (satu) hari tidak masuk kerja.

 

 

Angka 12

 

 

 

Yang dimaksud dengan "sasaran kerja pegawai" adalah rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang pegawai yang disusun dan disepakati bersama antara pegawai dengan atasan pegawai.

 

 

Angka 13

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 14

 

 

 

Yang dimaksud dengan "memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat" adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

 

 

Angka 15

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 16

 

 

 

Yang dimaksud dengan "memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier" adalah memberi kesempatan kepada bawahan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pengembangan karier, antara lain memberi kesempatan mengikuti rapat, seminar, diklat, dan pendidikan formal lanjutan.

 

 

Angka 17

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 4

 

 

Angka 1

 

 

 

Yang dimaksud dengan "menyalahgunakan wewenang" adalah menggunakan kewenangannya untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk kepentingan pribadi atau kepentingan pihak lain yang tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut.

 

 

Angka 2

 

 

 

Contoh:

 

 

 

Seorang PNS yang tidak memiliki wewenang di bidang perizinan membantu mengurus perizinan bagi orang lain dengan memperoleh imbalan.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 5

 

 

 

Yang dimaksud dengan "memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah" adalah perbuatan yang dilakukan tidak atas dasar ketentuan termasuk tata cara maupun kualifikasi barang, dokumen, atau benda lain yang dapat dipindahtangankan.

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Yang dimaksud dengan "jabatan" adalah jabatan struktural dan jabatan fungsional tertentu.

 

 

Angka 8

 

 

 

PNS dilarang menerima hadiah, padahal diketahui dan patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

 

 

Angka 9

 

 

 

Yang dimaksud dengan "bertindak sewenang-wenang" adalah setiap tindakan atasan kepada bawahan yang tidak sesuai dengan peraturan kedinasan seperti tidak memberikan tugas atau pekerjaan kepada bawahan, atau memberikan nilai hasil pekerjaan (Daftar Penilaian Pekerjaan Pegawai) tidak berdasarkan norma, standar, dan prosedur yang ditetapkan.

 

 

Angka 10

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 11

 

 

 

Yang dimaksud dengan "menghalangi berjalannya tugas kedinasan" adalah perbuatan yang mengakibatkan tugas kedinasan menjadi tidak lancar atau tidak mencapai hasil yang harus dipenuhi.

 

 

 

Contoh:

 

 

 

PNS yang tidak memberikan dukungan dalam hal diperlukan koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi dalam tugas kedinasan.

 

 

Angka 12

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

PNS sebagai peserta kampanye hadir untuk mendengar, menyimak visi, mini, dan program yang ditawarkan peserta pemilu, tanpa menggunakan atribut Partai atau PNS.

 

 

 

 

Yang dimaksud dengan "menggunakan atribut partai" adalah dengan menggunakan dan/atau memanfaatkan pakaian, kendaraan, atau media lain yang bergambar partai politik dan/atau calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan/atau calon Presiden/Wakil Presiden dalam masa kampanye.

 

 

 

 

Yang dimaksud dengan "menggunakan atribut PNS" adalah seperti menggunakan seragam Korpri, seragam dinas, kendaraan dinas, dan lain-lain.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 13

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 14

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 15

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Yang dimaksud dengan "terlibat dalam kegiatan kampanye" adalah seperti PNS bertindak sebagai pelaksana kampanye, petugas kampanye/tim sukses, tenaga ahli, penyandang dana, pencari dana, dan lain-lain.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 5

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 6

 

 

PNS yang melanggar ketentuan disiplin PNS dijatuhi hukuman disiplin dan apabila perbuatan tersebut terdapat unsur pidana maka terhadap PNS tersebut tidak tertutup kemungkinan dapat dikenakan hukuman pidana.

 

Pasal 7

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Hukuman disiplin yang berupa teguran lisan dinyatakan dan disampaikan secara lisan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin.

 

 

 

 

Apabila seorang atasan menegur bawahannya tetapi tidak dinyatakan secara tegas sebagai hukuman disiplin, bukan hukuman disiplin.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Hukuman disiplin yang berupa teguran tertulis dinyatakan dan disampaikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada PNS yang melakukan pelanggaran.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Hukuman disiplin yang berupa pernyataan tidak puas secara tertulis dinyatakan dan disampaikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada PNS yang melakukan pelanggaran.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Masa penundaan kenaikan gaji berkala tersebut dihitung penuh untuk kenaikan gaji berkala berikutnya.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah dengan memperhatikan jabatan yang lowong dan persyaratan jabatan.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Yang dimaksud dengan "jabatan" adalah jabatan struktural dan fungsional tertentu.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf e

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 8

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 5

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 8

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 9

 

 

 

Yang dimaksud dengan "tanpa alasan yang sah" adalah bahwa alasan ketidakhadirannya tidak dapat diterima akal sehat.

 

 

Angka 10

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 11

 

 

 

Jenis hukuman disiplin terhadap pelanggaran ketentuan ini mengacu antara lain pada peraturan perundang-undangan tentang pelayanan publik.

 

 

Angka 12

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 13

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 14

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 9

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 5

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 8

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 9

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 10

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 11

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 9.

 

 

Angka 12

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 13

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 14

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11.

 

 

Angka 15

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 16

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 17

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 10

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 5

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 8

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 9

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 9.

 

 

Angka 10

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 11

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 12

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11.

 

 

Angka 13

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 11

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11

 

 

Angka 5

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 12

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11.

 

 

Angka 5

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 8

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 9

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 13

 

 

Angka 1

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 2

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 3

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 4

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 5

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 6

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 7

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 8

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 9

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 8 angka 11.

 

 

Angka 10

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 11

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 12

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Angka 13

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 14

 

 

Yang dimaksud dengan "dihitung secara kumulatif sampai dengan akhir tahun berjalan" adalah bahwa pelanggaran yang dilakukan dihitung mulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun yang bersangkutan.

 

 

Contoh:

 

 

Seorang PNS dari bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2011 tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari maka yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran lisan.

 

 

Selanjutnya, pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011 yang bersangkutan tidak masuk kerja selama 2 (dua) hari, sehingga jumlahnya menjadi 7 (tujuh) hari. Dalam hal demikian, maka yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis.

 

 

Selanjutnya, pada bulan September sampai dengan bulan Nopember 2011 yang bersangkutan tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari, sehingga jumlahnya menjadi 12 (dua belas) hari. Dalam hal demikian, maka yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin berupa pernyataan tidak puas secara tertulis.

 

Pasal 15

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Pejabat struktural eselon I yang diturunkan jabatannya menjadi pejabat struktural eselon II maka untuk pengangkatan dalam jabatan struktural eselon II ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK).

 

 

 

Yang dimaksud dengan "jabatan lain yang pengangkatan dan pemberhentiannya menjadi wewenang Presiden" antara lain Panitera Mahkamah Agung dan Panitera Mahkamah Konstitusi.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 16

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Angka 1

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 2

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 3

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 4

 

 

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat struktural eselon II" antara lain adalah:

 

 

 

 

 

a.

Pejabat struktural eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal atau Badan atau Sekretariat Jenderal, seperti Direktur, Kepala Pusat, Kepala Biro;

 

 

 

 

 

b.

Pejabat struktural eselon II di lingkungan instansi vertikal yang atasan langsungnya Pejabat struktural eselon I yang Bukan Pejabat Pembina Kepegawaian, seperti Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;

 

 

 

 

 

c.

Pejabat struktural eselon II b di lingkungan Unit Pelaksana Teknis, seperti Kepala Balai Besar.

 

 

 

 

Angka 5

 

 

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat struktural eselon II" adalah Pejabat struktural eselon II di lingkungan instansi vertikal dan Kepala Kantor Perwakilan Provinsi atau Kepala unit setara dengan sebutan lain yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Pejabat Pembina Kepegawaian, seperti Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kepala Kantor Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan, Kepala Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara, dan Kepala Kejaksaan Tinggi.

 

 

 

 

Angka 6

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 7

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 8

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf e

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf f

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf g

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat yang setara" adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu, antara lain Rektor dan Dekan.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat yang setara" adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu, antara lain Ketua Pengadilan Tinggi.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Lihat penjelasan ayat (1) angka 4 dan angka 5.

 

 

Ayat (5)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat yang setara" adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu, antara lain Ketua Pengadilan Negeri, Direktur Akademi.

 

 

Ayat (6)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat yang setara" adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu, antara lain Kepala Sekolah Menengah Atas, Kepala Sekolah Menengah Pertama.

 

 

Ayat (7)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pejabat yang setara" adalah PNS yang diberi tugas tambahan untuk memimpin satuan unit kerja tertentu, antara lain Kepala Sekolah Dasar, Kepala Taman Kanak-Kanak.

 

Pasal 17

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 18

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Angka 1

 

 

 

 

 

Jabatan struktural eselon I di Provinsi adalah jabatan Sekretaris Daerah Provinsi.

 

 

 

 

Angka 2

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 3

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 4

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 5

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 6

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 7

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf e

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf f

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf g

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (5)

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (6).

 

 

Ayat (6)

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (7).

 

Pasal 19

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 20

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Angka 1

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 2

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 3

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 4

 

 

 

 

 

Jabatan struktural eselon II antara lain adalah Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

 

 

 

 

Angka 5

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 6

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 7

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf e

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf f

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf g

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Angka 1

 

 

 

 

 

Jabatan struktural eselon II adalah Asisten di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

 

 

 

 

Angka 2

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

 

Angka 3

 

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (5)

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (6).

 

 

Ayat (6)

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (7).

 

Pasal 21

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Ketentuan penjatuhan hukuman disiplin oleh atasan kepada pejabat yang seharusnya menghukum berlaku juga bagi atasan dari atasan secara berjenjang.

 

 

 

Penjatuhan hukuman disiplin oleh atasan kepada pejabat yang tidak menjatuhkan hukuman disiplin, dilakukan setelah mendengar keterangannya, dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 22

 

 

Yang dimaksud dengan "tidak terdapat pejabat yang berwenang menghukum" adalah terdapat satuan organisasi yang pejabatnya lowong, antara lain karena berhalangan tetap, atau tidak terdapat dalam struktur organisasi.

 

Pasal 23

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Dalam menentukan tanggal pemeriksaan berikutnya harus pula diperhatikan waktu yang diperlukan untuk menyampaikan surat panggilan.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 24

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Tujuan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat ini, adalah untuk mengetahui apakah PNS yang bersangkutan benar atau tidak melakukan pelanggaran disiplin, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong atau menyebabkan ia melakukan pelanggaran disiplin.

 

 

 

Pemeriksaan harus dilakukan dengan teliti dan obyektif, sehingga dengan demikian pejabat yang berwenang menghukum dapat mempertimbangkan dengan seadil-adilnya tentang jenis hukuman disiplin yang akan dijatuhkan.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "pemeriksaan secara tertutup" adalah pemeriksaan hanya dihadiri oleh PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin dan pemeriksa.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 25

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Tim Pemeriksa bersifat temporer (Ad Hoc).

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 26

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 27

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Pembebasan sementara dari tugas jabatannya dimaksudkan untuk kelancaran pemeriksaan dan pelaksanaan tugas-tugasnya.

 

 

 

Selama PNS yang bersangkutan dibebaskan sementara dari tugas jabatannya, diangkat pejabat pelaksana harian.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 28

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 29

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 30

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 31

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "secara tertutup" adalah bahwa penyampaian surat keputusan hanya diketahui PNS yang bersangkutan dan pejabat yang menyampaikan keputusan serta pejabat lain yang terkait, dengan ketentuan bahwa pejabat terkait dimaksud jabatan dan pangkatnya tidak boleh lebih rendah dari PNS yang bersangkutan.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 32

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 33

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 34

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Huruf a

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf b

 

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

 

Huruf c

 

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (1) angka 4 huruf b dan huruf c.

 

 

 

Huruf d

 

 

 

 

Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (1) angka 5.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 35

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 36

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 37

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "final dan mengikat" adalah terhadap keputusan penguatan, peringanan, pemberatan, atau pembatalan hukuman disiplin tidak dapat diajukan keberatan dan wajib dilaksanakan.

 

 

Ayat (4)

 

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 38

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 39

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 40

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (3)

 

 

 

Dalam hal PNS yang bersangkutan sebelumnya dijatuhkan hukuman disiplin berupa pemberhentian tidak dengan hormat maka keputusan pemberhentiannya ditinjau kembali oleh pejabat yang berwenang menjadi pemberhentian dengan hormat.

 

Pasal 41

 

 

Ayat (1)

 

 

 

Cukup jelas.

 

 

Ayat (2)

 

 

 

Yang dimaksud dengan "keputusan yang dibatalkan" adalah bahwa berdasarkan keputusan atasan pejabat yang berwenang menghukum atau Badan Pertimbangan Kepegawaian, PNS yang bersangkutan dinyatakan tidak bersalah.

 

Pasal 42

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 43

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 44

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 45

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 46

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 47

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 48

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 49

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 50

 

 

Cukup jelas.

 

Pasal 51

 

 

Cukup jelas.

 

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5135